zmedia

Prasasti Hantang, Batu yang Mengabadikan Kemenangan Panjalu

Sebuah batu bertulis di kawasan Ngantang, Malang, menyimpan cerita penting tentang pergulatan politik Jawa pada abad ke-12. Batu tersebut dikenal sebagai Prasasti Hantang atau Prasasti Ngantang, sebuah peninggalan dari masa pemerintahan Raja Jayabhaya, penguasa Kerajaan Panjalu atau Kediri.

Prasasti ini bertarikh 1057 Saka atau 7 September 1135 Masehi. Yang membuatnya istimewa bukan hanya usia dan isi tulisannya, tetapi sebuah kalimat pendek yang terpahat dengan huruf besar pada bagian atas prasasti yaitu “Panjalu Jayati”, yang berarti “Panjalu menang.”

Kalimat tersebut menjadi petunjuk penting mengenai situasi politik pada masa Jayabhaya. Prasasti Hantang berkaitan dengan kemenangan Panjalu dalam konflik dengan Janggala sekaligus menjadi piagam pengesahan anugerah kepada masyarakat Hantang dan desa-desa di wilayahnya.

Dengan demikian, Prasasti Hantang bukan sekadar peninggalan arkeologis, melainkan dokumen politik yang memperlihatkan bagaimana seorang raja membangun legitimasi, menghargai loyalitas rakyat, dan mengabadikan kemenangan kerajaannya.

Image

Image

Di Mana Prasasti Hantang Ditemukan?

Prasasti Hantang ditemukan di Desa Ngantang, wilayah Malang, Jawa Timur. Karena lokasi penemuannya berada di Ngantang, prasasti ini juga populer dengan nama Prasasti Ngantang.

Prasasti tersebut terbuat dari batu andesit, menggunakan aksara Jawa Kuna dan bahasa Jawa Kuna. Ukurannya sekitar 87 cm panjang, 31 cm lebar, dan 172 cm tinggi. Prasasti ini tercatat dengan nomor inventaris D 9.

Nama “Hantang” sendiri merupakan bentuk yang muncul dalam sumber prasasti, sedangkan Ngantang merupakan nama wilayah yang dikenal hingga sekarang.

Keberadaan prasasti di kawasan tersebut juga menunjukkan bahwa wilayah Malang tidak dapat dipandang sebagai daerah yang terpisah dari dinamika politik Kerajaan Panjalu. Sebaliknya, kawasan ini memiliki hubungan dengan perkembangan kekuasaan Panjalu pada abad ke-12.


Kapan Prasasti Hantang Dibuat?

Prasasti Hantang dibuat pada masa pemerintahan Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya, salah satu raja paling terkenal dalam sejarah Kerajaan Kediri.

Tanggal yang tercantum dalam data inventaris Kemedikdasmen adalah 1057 Saka, atau 7 September 1135 Masehi.

Tahun 1135 memiliki arti penting.

Sebelum munculnya Jayabhaya, sejarah Panjalu dan Janggala diwarnai persaingan politik yang berlangsung cukup panjang. Sumber penelitian arkeologi menunjukkan bahwa nama Panjalu sempat tidak banyak muncul dalam sumber setelah pertengahan abad ke-11, sebelum kembali tampil secara jelas pada masa Jayabhaya.

Kemunculan Prasasti Hantang kemudian menjadi salah satu tanda penting bangkitnya kembali Panjalu.


“Panjalu Jayati”: Apa Artinya?

Inilah bagian paling terkenal dari Prasasti Hantang.

Pada bagian atas prasasti terdapat tulisan dengan huruf besar yang berbunyi:

Panjalu Jayati

Secara umum, ungkapan tersebut diterjemahkan sebagai “Panjalu menang.”

Tulisan tersebut berada di sekitar cap kerajaan yang berbentuk Narasingha. Data pemerintah mengenai prasasti ini menyebut tulisan tersebut sebagai inskripsi pendek dengan aksara yang dikenal sebagai “Kadiri Kuadrat”. 

Menariknya, tulisan “Panjalu Jayati” dibuat dengan ukuran jauh lebih menonjol dibandingkan teks utama prasasti.

Hal tersebut membuatnya terlihat seperti sebuah slogan kemenangan.

Dan di sinilah Prasasti Hantang menjadi menarik jika dibaca dari perspektif sejarah politik.

Prasasti tidak hanya berfungsi sebagai catatan administratif. Ia juga menjadi alat komunikasi kekuasaan. Raja menyampaikan kepada masyarakat bahwa Panjalu telah mencapai kemenangan.

Penelitian arkeologi bahkan menafsirkan tulisan besar tersebut sebagai semacam proklamasi kemenangan Panjalu atas Janggala.

Dengan kata lain, Panjalu Jayati bukan sekadar tiga kata, melainkan pernyataan politik.


Prasasti Hantang dan Perang Panjalu-Janggala

Untuk memahami makna Prasasti Hantang, kita perlu melihat hubungan antara Panjalu dan Janggala.

Persaingan kedua wilayah tersebut berakar dari pembagian kerajaan yang sebelumnya dilakukan pada masa Airlangga. Dalam perkembangan selanjutnya, Panjalu dan Janggala menjadi dua kekuatan politik yang memiliki sejarah persaingan.

Pada masa Jayabhaya, konflik tersebut akhirnya mencapai titik penting.

Prasasti Hantang menunjukkan bahwa Panjalu telah memperoleh kemenangan. Buku pelajaran sejarah Indonesia juga menggunakan Prasasti Hantang sebagai salah satu bukti bahwa Jayabhaya berhasil mengatasi kekacauan politik dan kemenangan Panjalu atas Janggala.

Namun, perlu dicatat bahwa prasasti adalah sumber yang dibuat dalam lingkungan kekuasaan kerajaan. Karena itu, pernyataan mengenai kemenangan harus dibaca secara kritis.

Prasasti terutama merekam sudut pandang pihak yang berkuasa.

Jadi, “Panjalu menang” tidak hanya memberikan informasi tentang konflik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kemenangan tersebut ingin dikenang oleh pemerintahan Jayabhaya.


Mengapa Desa Hantang Mendapat Anugerah?

Isi Prasasti Hantang tidak berhenti pada persoalan perang.

Prasasti tersebut juga mencatat pengukuhan pemberian anugerah kepada Desa Hantang dan 12 desa lainnya. Hak-hak istimewa tersebut berkaitan dengan penghargaan terhadap kesetiaan masyarakat kepada Raja Jayabhaya. Masyarakat Hantang sebelumnya telah memiliki anugerah dari raja-raja terdahulu. Catatan mengenai anugerah itu awalnya ditulis pada ripta, yaitu media berupa daun lontar.

Kemudian masyarakat Hantang memohon agar catatan tersebut dipindahkan ke media batu atau linggopala, sekaligus ditambahkan dengan anugerah dari Jayabhaya.

Permohonan tersebut kemudian dikabulkan oleh raja.

Hal tersebut memberikan gambaran menarik tentang kehidupan administratif Kerajaan Kediri.

Sebuah desa dapat memiliki hak-hak tertentu yang diakui kerajaan. Hak tersebut kemudian dapat diperkuat dan diabadikan dalam bentuk prasasti batu.

Dengan demikian, prasasti bukan hanya simbol kekuasaan, tetapi juga dapat berfungsi sebagai dokumen hukum dan administrasi kerajaan.


Kesetiaan Hantang kepada Raja Jayabhaya

Gambar. Ilustrasi Raja Jayabahaya

Mengapa Jayabhaya memberikan penghargaan kepada masyarakat Hantang?

Jawabannya berkaitan dengan loyalitas politik.

Sumber mengenai Prasasti Hantang menjelaskan bahwa masyarakat Hantang menunjukkan kebaktian kepada raja dan tetap berpihak kepada Jayabhaya ketika terjadi usaha memisahkan diri atau konflik perebutan kekuasaan. Mereka juga disebut telah menyerahkan bentuk kewajiban tertentu kepada kerajaan.

Jika dibaca dalam konteks politik abad ke-12, hal tersebut sangat masuk akal.

Sebuah kerajaan tidak mungkin hanya bergantung kepada raja dan pasukan pusat. Wilayah-wilayah di luar pusat kerajaan juga memiliki peran penting.

Ketika terjadi konflik perebutan kekuasaan, loyalitas sebuah desa atau wilayah dapat menentukan apakah pemerintahan pusat mampu mempertahankan pengaruhnya.

Karena itu, penghargaan Jayabhaya kepada Hantang dapat dilihat sebagai imbalan atas loyalitas sekaligus strategi untuk memperkuat hubungan antara kerajaan dan daerah.


Prasasti Hantang sebagai Bukti Politik Kerajaan Kediri

Salah satu kesalahan yang sering terjadi ketika membahas prasasti adalah melihatnya hanya sebagai “batu bertulisan”.

Padahal, prasasti merupakan dokumen yang dapat mengungkap berbagai aspek kehidupan masa lalu.

Dari Prasasti Hantang, misalnya, kita dapat mengetahui:

  • nama dan gelar Raja Jayabhaya;

  • tahun pemerintahan atau waktu penerbitan prasasti;

  • penggunaan aksara Jawa Kuna;

  • penggunaan bahasa Jawa Kuna;

  • hubungan antara raja dan desa;

  • pemberian hak istimewa kepada masyarakat;

  • keberadaan administrasi kerajaan;

  • konflik politik Panjalu dan Janggala;

  • serta cara kerajaan mengabadikan kemenangan politik.

Prasasti tersebut secara khusus berisi pengukuhan anugerah kepada Hantang dan 12 desa lainnya.

Karena itu, Prasasti Hantang merupakan salah satu sumber primer yang sangat berharga untuk mempelajari Kerajaan Kediri pada masa Jayabhaya.


Hantang, Loyalitas, dan Politik Kekuasaan

Jika ditelusuri lebih jauh, Prasasti Hantang sebenarnya memperlihatkan sebuah pola politik yang menarik.

Raja memberikan penghargaan kepada masyarakat yang loyal. Masyarakat memperoleh pengakuan atas hak-haknya. Sebaliknya, kerajaan memperoleh dukungan dari wilayah yang berada di bawah kekuasaannya.

Hubungan tersebut membentuk semacam pertukaran politik.

Kerajaan memberikan perlindungan dan pengakuan, sedangkan masyarakat menunjukkan kesetiaan.

Karena itulah, Prasasti Hantang dapat dibaca sebagai gambaran tentang bagaimana negara kerajaan pada masa lalu mempertahankan stabilitasnya.

Bukan hanya melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui penghargaan, pengesahan hak, dan pembentukan hubungan politik dengan masyarakat lokal.


Mengapa Prasasti Hantang Penting bagi Sejarah Indonesia?

Ada setidaknya tiga alasan mengapa Prasasti Hantang sangat penting.

1. Menjadi bukti pemerintahan Jayabhaya

Prasasti ini memberikan bukti tertulis mengenai pemerintahan Jayabhaya pada 1135 Masehi. Nama dan gelar panjangnya tercatat dalam prasasti tersebut. 

2. Menunjukkan kemenangan Panjalu

Tulisan Panjalu Jayati menjadi simbol kemenangan Panjalu dan sering dikaitkan dengan keberhasilan Jayabhaya mengatasi konflik dengan Janggala. 

3. Mengungkap hubungan raja dengan masyarakat

Prasasti mencatat pemberian anugerah kepada Hantang dan 12 desa lainnya. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara kerajaan dengan masyarakat daerah memiliki aspek administratif dan politik yang kuat.


Prasasti Hantang dan Cara Membaca Sejarah Secara Kritis

Ada satu hal yang penting untuk diperhatikan.

Sejarah tidak cukup hanya dengan menghafal bahwa “Panjalu menang atas Janggala.”

Sejarawan harus bertanya: siapa yang menulisnya, untuk tujuan apa, dan dalam konteks politik seperti apa?

Prasasti Hantang dibuat oleh pemerintahan Jayabhaya. Oleh sebab itu, keberadaan slogan “Panjalu Jayati” juga dapat dipahami sebagai usaha untuk membangun legitimasi.

Kemenangan bukan hanya sebuah peristiwa militer, tetapi juga harus dikenang sebagai kemenangan politik.

Di sinilah prasasti menjadi sangat berharga.

Ia tidak hanya memberitahu kita apa yang ingin dicatat oleh kerajaan, tetapi juga membantu kita memahami apa yang dianggap penting oleh penguasa pada zamannya.


Warisan Jayabhaya yang Bertahan Hampir 900 Tahun

Jayabhaya kemudian dikenang sebagai salah satu raja besar Kediri.

Prasasti Hantang menjadi salah satu peninggalan penting pemerintahannya, selain Prasasti Talan (prasasti Munggut) dan Prasasti Jepun (Tamparang). Buku sejarah Indonesia juga mencatat ketiga prasasti tersebut sebagai peninggalan penting masa Jayabhaya.

Namun Prasasti Hantang memiliki karakter yang sangat khas.

Jika prasasti merupakan “suara” kerajaan yang ditulis di atas batu, maka Hantang menyuarakan satu pesan yang sangat jelas:

Panjalu telah menang.

Kalimat tersebut mungkin singkat, tetapi konteks di baliknya panjang yaitu ada konflik, perebutan pengaruh, loyalitas masyarakat, penghargaan raja, dan usaha membangun kembali kekuatan Panjalu.


Kesimpulan

Prasasti Hantang atau Prasasti Ngantang merupakan salah satu peninggalan terpenting dari masa pemerintahan Raja Jayabhaya di Kerajaan Kediri.

Dibuat pada 1057 Saka atau 1135 Masehi, prasasti ini ditemukan di kawasan Ngantang, Malang, dan menggunakan aksara serta bahasa Jawa Kuna. 

Keistimewaan utamanya adalah tulisan besar “Panjalu Jayati”, yang berarti “Panjalu menang.”

Namun, di balik tiga kata tersebut tersimpan kisah yang jauh lebih besar. Prasasti ini merekam kemenangan politik Panjalu, hubungan dengan Janggala, loyalitas masyarakat Hantang, serta pemberian hak istimewa kepada Hantang dan 12 desa lainnya.

Lebih jauh lagi, Prasasti Hantang memperlihatkan bahwa kekuasaan pada masa Kerajaan Kediri tidak hanya dibangun melalui perang. Legitimasi, loyalitas masyarakat, administrasi, dan penghargaan terhadap daerah juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan sebuah kerajaan.

Itulah sebabnya, Prasasti Hantang bukan sekadar batu tua dari masa Kediri. Ia adalah dokumen politik yang masih berbicara kepada kita hampir sembilan abad kemudian.


Daftar Pustaka

  • Direktorat Pelindungan Kebudayaan. Prasasti dan Raja-Raja Nusantara. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Sumber pemerintah mencatat bahan, lokasi temuan, tanggal, aksara, ukuran, nomor inventaris, serta isi pokok Prasasti Hantang. (Kemendikdasmen Repository)

  • Berita Penelitian Arkeologi No. 40. Direktorat/instansi penelitian arkeologi, mengenai perkembangan Panjalu dan Prasasti Hantang. (Kemendikdasmen Repository)

  • Sejarah Indonesia Kelas X SMA/MA/SMK/MAK, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pembahasan Kerajaan Kediri dan Prasasti Hantang. (FlipBuilder)

  • Zoetmulder, P.J. Old Javanese-English Dictionary. Leiden: KITLV Press.

  • Pigeaud, Th. G. Th. Java in the 14th Century. The Hague: Martinus Nijhoff.

  • Brandes, J.L.A. Oud-Javaansche Oorkonden. Batavia.

Kata Kunci

  • Prasasti Ngantang

  • Prasasti Hantang 1135

  • Prasasti Hantang Jayabhaya

  • Panjalu Jayati

  • Kerajaan Kediri

  • Raja Jayabhaya

  • Panjalu dan Janggala

  • sejarah Prasasti Hantang

  • isi Prasasti Hantang

  • peninggalan Kerajaan Kediri

Posting Komentar untuk "Prasasti Hantang, Batu yang Mengabadikan Kemenangan Panjalu"