zmedia

Saat Singasari Menjejakkan Kaki di Sumatra: Kisah Amoghapasa di Dharmasraya

Bayangkan perjalanan panjang pada akhir abad ke-13. Dari Jawa Timur, sebuah arca batu dikirim menyeberangi laut menuju Sumatra. Tujuannya bukan sekadar tempat biasa, melainkan Dharmasraya, sebuah kawasan penting di sepanjang aliran Batanghari yang kini berada di Sumatera Barat. Jejak Singasari di Dharmasraya inilah yang kemudian menjadi salah satu bukti paling menarik tentang hubungan politik Jawa dan Sumatra pada masa Hindu-Buddha.

Di tengah kisah tersebut berdiri satu nama yang sangat penting yaitu Kertanegara, raja terakhir kerajaan Singasari. Pada 1286 M, atas perintahnya, arca Amoghapasa dikirim dari Jawa ke Swarnabhumi dan ditegakkan di Dharmasraya. Peristiwa itu dicatat dalam Prasasti Padang Roco.

Tetapi, mengapa sebuah kerajaan di Jawa mengirim arca hingga jauh ke hulu Batanghari? Apakah ini hadiah persahabatan? Simbol kekuasaan? Atau bagian dari strategi besar Singasari menghadapi ancaman dari luar?

Di sinilah kisah Dharmasraya menjadi menarik.


Dari Singasari ke Dharmasraya: Sebuah Hubungan yang Melampaui Laut

Pada abad ke-13, Singasari di bawah raja Kertanegara bukan lagi kerajaan yang hanya sibuk mengurus wilayah di Jawa Timur. Kertanegara mempunyai pandangan yang lebih luas mengenai posisi politik Nusantara.

Salah satu kebijakannya adalah mengembangkan hubungan dengan wilayah-wilayah di luar Jawa. Dalam konteks inilah muncul Ekspedisi Pamalayu, yang biasanya dikaitkan dengan keberangkatan pasukan Singasari menuju Sumatra pada sekitar 1275.

Nama "Pamalayu" memang sering membuat kisah ini terdengar seperti peperangan besar. Namun, bukti yang sampai kepada kita justru memperlihatkan hubungan yang lebih kompleks. Prasasti Padang Roco tahun 1286 menyebut pengiriman arca Amoghapasa sebagai hadiah dari Kertanegara kepada penguasa Melayu di Dharmasraya. Hal ini menggambarkan ekspedisi tersebut dalam kerangka politik hubungan Singasari dengan Melayu.

Jadi, lebih tepat jika hubungan Singasari–Dharmasraya tidak hanya dilihat dengan kacamata "penaklukan".

Ada diplomasi. Ada kepentingan politik. Ada agama. Dan tentu saja ada strategi geopolitik.

Dharmasraya sendiri memiliki posisi yang sangat menarik. Kawasannya berada di sekitar daerah aliran Sungai Batanghari, salah satu jalur penting yang menghubungkan wilayah pedalaman Sumatra dengan kawasan perdagangan di bagian timur pulau.

Situs Padangroco berada di Jorong Sungai Langsat, Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, Kabupaten Dharmasraya. Di kawasan ini ditemukan kompleks percandian yang menunjukkan bahwa daerah tersebut bukan wilayah terpencil tanpa aktivitas besar.

Dengan kata lain, ketika rombongan Singasari datang membawa Amoghapasa, mereka tidak sedang menuju "ujung dunia". Mereka datang ke salah satu kawasan penting dalam jaringan politik dan perdagangan Sumatra.

Image
Gambar. Arca Amonghapasa

Image
Gambar. Kompleks Situs Candi Padang Roco

Image
Gambar. Arca Amoghapasa Ketika ditemukan

Amoghapasa: Batu dari Jawa yang Menjadi Pesan Politik

Bayangkan sebuah arca batu berukuran besar harus dibawa dari Jawa ke Sumatra pada abad ke-13. Tidak ada kapal modern, tidak ada truk, dan tidak ada jalur transportasi seperti sekarang.

Namun perjalanan itu benar-benar terjadi.

Prasasti Padang Roco mencatat bahwa pada tahun 1208 Saka atau 1286 M, arca Amoghapasa Lokeshwara beserta pengiringnya dibawa dari Bhumi Jawa menuju Swarnabhumi untuk ditegakkan di Dharmasraya. Prasasti tersebut ditulis menggunakan aksara Kawi dan memuat bahasa Melayu Kuno serta Sanskerta. 

Yang menarik, prasasti itu tidak sekadar menyebut nama Kertanegara.

Ia juga menyebut nama penguasa Melayu saat itu, Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa.

Kertanegara bahkan mengutus sejumlah pejabat penting untuk mengiringi pengiriman arca tersebut. Artinya, pengiriman Amoghapasa bukanlah sebuah peristiwa kecil yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Arca itu membawa pesan.

Pesan tersebut kira-kira berbunyi yakni Singasari hadir, memperlihatkan perhatian, sekaligus membangun hubungan dengan penguasa Melayu.

Di sinilah benda seni berubah menjadi dokumen politik.

Sebuah arca yang bagi masyarakat modern mungkin hanya tampak sebagai benda batu, bagi masyarakat abad ke-13 bisa memiliki makna keagamaan sekaligus politik yang sangat kuat.

Amoghapasa merupakan bentuk Avalokitesvara dalam tradisi Buddhis. Pengiriman arca semacam ini dapat dibaca sebagai bagian dari hubungan religius dan politik antara dua pusat kekuasaan.

Menariknya lagi, Prasasti Padang Roco menyebut bahwa hadiah tersebut diharapkan membawa kegembiraan bagi rakyat di Bhumi Malayu, termasuk penguasa dan berbagai kelompok masyarakat.

Jadi, jika kita membaca prasasti tersebut dengan hati-hati, gambaran yang muncul bukan sekadar pasukan Jawa datang lalu mengambil alih Sumatra.

Yang tampak justru sebuah diplomasi yang dibungkus simbol agama dan kebesaran kerajaan.

Tentu, bukan berarti hubungan tersebut sepenuhnya tanpa unsur kekuasaan. Singasari tetap merupakan kerajaan besar yang sedang membangun pengaruh di luar Jawa. Namun, bukti yang ada membuat kita perlu berhati-hati terhadap cerita sederhana bahwa Pamalayu hanyalah "invasi Singasari ke Sumatra".


Padang Roco dan Sungai Batanghari: Di Mana Jejak Itu Berada?

Kalau ingin mencari jejak Singasari di Dharmasraya, salah satu tempat terpenting adalah Padangroco.

Nama tersebut kini sangat erat dengan sejarah Dharmasraya. Kompleks Padangroco berada di kawasan aliran Sungai Batanghari dan memiliki beberapa struktur candi. Candi Padangroco I, misalnya, memiliki denah sekitar 21 × 21 meter, sementara terdapat pula Candi Padangroco II dan III di kompleks yang sama.

Kawasan ini menarik karena tidak berdiri sendirian.

Padangroco, Rambahan, dan Pulau Sawah berada dalam kawasan yang relatif berdekatan. Kajian Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat menyebut ketiganya kemungkinan merupakan bagian dari satu kesatuan kawasan penting Kerajaan Malayu-Dharmasraya.

Di sinilah kita mulai melihat gambaran yang lebih besar.

Batanghari bukan sekadar sungai.

Pada masa lalu, sungai adalah jalan raya.

Ia membawa manusia, barang, berita, gagasan, agama, dan kekuasaan. Sungai juga menghubungkan pedalaman dengan wilayah perdagangan yang lebih luas.

Karena itu, keberadaan pusat-pusat keagamaan dan politik di sepanjang Batanghari sangat masuk akal.

Image

Image

Image

 Sungai Batanghari dan situs-situs peninggalan Dharmasraya.

Image

Image

Image

Gambar. Peta Situs Komplek Padangroco Dharmasraya


Dari Kertanegara ke Adityawarman: Jejak Singasari yang Berubah Menjadi Warisan Dharmasraya

Kisah Amoghapasa ternyata tidak berhenti pada 1286.

Beberapa dekade kemudian, arca tersebut kembali menjadi bagian penting dari sejarah politik Sumatra.

Pada abad ke-14, muncul Adityawarman, tokoh besar dalam sejarah Malayu. Ia kemudian menambahkan prasasti pada bagian belakang arca Amoghapasa. Prasasti tersebut bertarikh sekitar 1347 M dan menjadi salah satu sumber penting mengenai pemerintahan Adityawarman.

Di sinilah sejarah menjadi semakin menarik.

Benda yang pada awalnya dikirim oleh Kertanegara dari Jawa akhirnya digunakan kembali oleh penguasa Sumatra untuk membangun legitimasi politiknya sendiri.

Artinya, makna sebuah benda sejarah dapat berubah mengikuti zaman.

Pada masa Kertanegara, Amoghapasa merupakan bagian dari hubungan Singasari dengan Melayu. Pada masa Adityawarman, arca tersebut menjadi bagian dari simbol kekuasaan dan identitas kerajaan di Sumatra.

Bahkan posisi arca dan lapiknya kemudian terpisah. Arca Amoghapasa ditemukan di Rambahan, sedangkan lapiknya yang memuat Prasasti Padang Roco ditemukan di Padangroco, dengan jarak sekitar 7 kilometer. Penyebab pasti keterpisahan keduanya belum diketahui.

Kita juga menemukan jejak lain yang menunjukkan betapa pentingnya kawasan tersebut.

Salah satunya adalah Arca Bhairawa, arca monumental yang dikaitkan dengan perkembangan keagamaan dan politik Malayu pada masa kemudian. Penelitian yang dimuat Perpusnas mencatat bahwa arca Bhairawa di kawasan Padang Roco memiliki tinggi sekitar 4,41 meter dan menjadi salah satu arca monumental terpenting dari kawasan tersebut.

Dengan demikian, Dharmasraya bukan sekadar tempat yang "pernah dilewati" Singasari.

Ia adalah ruang pertemuan berbagai kekuatan dan tradisi; Melayu, Jawa, Buddhisme, jaringan perdagangan, dan kekuasaan politik Sumatra.


Mengapa Jejak Singasari di Dharmasraya Begitu Penting?

Ada satu alasan sederhana mengapa sejarah Nusantara tidak pernah benar-benar terpisah oleh laut.

Justru laut dan sungai menjadi penghubung.

Kisah Amoghapasa menunjukkan bahwa pada abad ke-13, hubungan antara Jawa dan Sumatra sudah berlangsung dalam skala yang sangat luas.

Kertanegara memahami bahwa keamanan dan kepentingan politik Singasari tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di Jawa. Sumatra, terutama kawasan Melayu, mempunyai posisi penting dalam jaringan perdagangan dan geopolitik kawasan.

Karena itu, Dharmasraya menjadi salah satu titik penting dalam politik luar Jawa Singasari.

Namun ada pelajaran lain yang tidak kalah menarik.

Selama bertahun-tahun, sejarah sering disajikan seperti pertandingan yakni kerajaan A melawan kerajaan B, siapa menang dan siapa kalah.

Padahal peninggalan seperti Amoghapasa menunjukkan sesuatu yang lebih rumit.

Ada konflik, tetapi juga ada diplomasi. Ada kepentingan politik, tetapi juga ada agama. Ada kekuasaan, tetapi juga ada pertukaran budaya.

Dan yang paling menarik, jejak tersebut masih dapat kita lacak sampai sekarang melalui prasasti, arca, candi, dan lanskap Batanghari.

Image

Image

Image

Gambar. Arca Bhairawa dan detail Arca Amoghapasa

Jejak Singasari yang Masih Terlihat

Jika suatu hari kita berdiri di kawasan Padangroco, mungkin yang terlihat hanyalah struktur bata, tanah, pepohonan, dan kawasan yang tenang.

Namun di balik ketenangan itu, pernah berlangsung sebuah cerita besar.

Pada 1286, sebuah arca datang dari Jawa.

Ia membawa nama Kertanegara.

Ia membawa pesan politik Singasari.

Ia berdiri di tengah dunia Melayu Dharmasraya.

Kemudian waktu berjalan. Singasari runtuh setelah Kertanegara wafat pada 1292. Majapahit muncul. Adityawarman kemudian tampil sebagai penguasa penting di Sumatra. Pusat kekuasaan Melayu pun mengalami perubahan.

Tetapi batu-batu itu tetap tinggal.

Prasasti Padang Roco menjadi salah satu saksi paling jelas bahwa hubungan Jawa dan Sumatra pada abad ke-13 jauh lebih kompleks daripada sekadar cerita penaklukan.

Dan mungkin inilah hal paling menarik dari sejarah Dharmasraya yaitu jejak Singasari di sana tidak hadir dalam bentuk benteng besar atau istana yang masih utuh.

Ia justru hadir melalui sebuah arca, sebuah prasasti, kompleks candi, sungai, dan ingatan sejarah.

Dari benda-benda tersebut kita dapat membayangkan kembali sebuah masa ketika perjalanan dari Jawa ke Sumatra merupakan perjalanan luar biasa, tetapi hubungan politik dan budaya antarpulau ternyata sudah begitu erat.


Sumber dan bacaan lanjutan

  • Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Kompleks Candi Padangroco.

  • Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Cakrawala Maṇḍala Dwīpāntara: Wawasan Kemaritiman Kerajaan Singhasari.

  • Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Praśāsti.

  • Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat, Peninggalan Masa Klasik di Sumatera Barat.

  • Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara, kajian mengenai Dharmasraya dan Prasasti Padang Roco.

Kata Kunci: Jejak Singasari di Dharmasraya terlihat dari Prasasti Padang Roco dan Arca Amoghapasa. Simak kisah Kertanegara, Pamalayu, dan hubungan Jawa-Melayu pada abad ke-13.

Posting Komentar untuk "Saat Singasari Menjejakkan Kaki di Sumatra: Kisah Amoghapasa di Dharmasraya"