zmedia

Candi Plaosan Bukti Cinta Putri Buddha dan Pangeran Hindu di Jawa Kuno

Di tengah hamparan sawah yang tenang di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berdiri sebuah kompleks candi yang sering luput dari perhatian wisatawan. Padahal, di balik kemegahan bangunannya tersimpan kisah cinta, toleransi, dan persatuan dua kerajaan besar di Pulau Jawa.


Inilah Candi Plaosan, sebuah kompleks candi Buddha yang dipercaya dibangun sebagai simbol kasih sayang antara seorang putri penganut Buddha dan seorang pangeran beragama Hindu.

Yang membuat Candi Plaosan begitu istimewa bukan hanya arsitekturnya yang megah atau reliefnya yang indah, tetapi juga nilai sejarah yang dikandungnya. 

Candi ini menjadi bukti bahwa pada abad ke-9, perbedaan agama bukanlah penghalang untuk membangun sebuah peradaban yang harmonis. Bahkan, kisah pembangunan candi ini sering disebut sebagai salah satu simbol toleransi tertua di Indonesia.

Lalu, bagaimana sebenarnya sejarah Candi Plaosan? Siapa yang membangunnya? Dan mengapa candi ini dijuluki sebagai Candi Kembar? Mari menelusuri kisah lengkapnya.

Letak Candi Plaosan

Image

Image
Sumber. https://www.sweetescape.com/en/cities/yogyakarta

Candi Plaosan berada di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Lokasinya hanya sekitar 1,5 kilometer dari kompleks Candi Prambanan, sehingga banyak wisatawan mengunjungi kedua situs bersejarah ini dalam satu perjalanan.

Keberadaannya yang berada di antara dua pusat kebudayaan besar—Kerajaan Mataram Kuno bercorak Buddha dan Hindu—menjadi salah satu alasan mengapa Candi Plaosan memiliki karakter arsitektur yang unik.

Dari pusat Kota Yogyakarta, Candi Plaosan berjarak sekitar 22 kilometer atau sekitar 35–45 menit perjalanan menggunakan kendaraan bermotor.

Latar Belakang Berdirinya Candi Plaosan

Untuk memahami sejarah Candi Plaosan, kita perlu melihat kondisi politik Jawa pada abad ke-8 hingga ke-9.

Saat itu, Pulau Jawa diperintah oleh dua wangsa besar, yakni Wangsa Syailendra yang identik dengan agama Buddha Mahayana dan Wangsa Sanjaya yang menganut agama Hindu Siwa.

Hubungan kedua wangsa ini sempat mengalami persaingan politik. Namun, situasi berubah ketika terjadi pernikahan antara:

  • Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya

  • Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra

Pernikahan tersebut bukan hanya menyatukan dua keluarga kerajaan, tetapi juga menjadi simbol rekonsiliasi antara dua kekuatan politik terbesar di Jawa saat itu.

Banyak sejarawan berpendapat bahwa Candi Plaosan dibangun sebagai hadiah atau persembahan Rakai Pikatan kepada sang permaisuri.

Bukti dari Prasasti

Pendapat tersebut diperkuat oleh keberadaan Prasasti Tri Tepusan dan beberapa prasasti lain yang menyebut adanya pembangunan kawasan suci Buddha pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.

Walaupun tidak secara eksplisit menyebut nama "Plaosan", gaya arsitektur, kronologi pembangunan, serta temuan arkeologis menunjukkan bahwa kompleks candi ini berasal dari sekitar tahun 850 Masehi.

Mengapa Disebut Candi Kembar?

Image
Sumber. https://readingborobudur.org/wp-content/uploads/2021/07/01-a-1.jpg

Julukan Candi Kembar muncul karena dua bangunan utama di kompleks Plaosan Lor memiliki bentuk, ukuran, dan susunan yang hampir identik.

Kedua bangunan tersebut berdiri berdampingan dengan tata letak yang sangat simetris.

Sebagian ahli menafsirkan kedua candi utama itu sebagai simbol pasangan suami istri, yakni Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani.

Simetri yang sangat kuat juga mencerminkan filosofi keseimbangan, keharmonisan, serta persatuan antara dua keyakinan berbeda.

Arsitektur Candi Plaosan

Candi Plaosan merupakan contoh indah perpaduan seni bangunan Buddha dan Hindu.

Beberapa ciri khasnya antara lain:

1. Kompleks Terbagi Dua

Kompleks terdiri atas:

  • Plaosan Lor (bagian utara)

  • Plaosan Kidul (bagian selatan)

Plaosan Lor merupakan bagian yang paling utuh hingga sekarang.

2. Ratusan Bangunan Pendukung

Pada masa kejayaannya, kompleks ini memiliki:

  • puluhan candi perwara

  • stupa

  • bangunan biara

  • pagar batu

  • halaman luas

Hal ini menunjukkan bahwa Plaosan dahulu merupakan pusat kegiatan keagamaan Buddha yang cukup besar.

3. Relief yang Halus

Relief-relief di dinding candi menggambarkan:

  • Bodhisattwa

  • Tara

  • Makhluk kayangan

  • Motif bunga teratai

  • Kehidupan religius

Ukiran tersebut menunjukkan tingginya kemampuan para pemahat Jawa Kuno.

4. Arca Dwarapala

Di pintu masuk kompleks terdapat arca penjaga berukuran besar yang menunjukkan pengaruh budaya Hindu dalam konsep perlindungan kawasan suci.

Perpaduan Hindu dan Buddha

Inilah salah satu daya tarik terbesar Candi Plaosan.

Walaupun merupakan candi Buddha, beberapa unsur arsitekturnya justru mengadopsi gaya Hindu.

Misalnya:

  • tata letak kompleks

  • bentuk gapura

  • ornamen tertentu

  • konsep ruang

Sebaliknya, pada masa yang hampir bersamaan, Candi Prambanan yang merupakan kompleks Hindu juga memperlihatkan sejumlah pengaruh seni Buddha.

Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan kedua agama pada masa Mataram Kuno tidak selalu diwarnai konflik, melainkan juga kerja sama dan saling memengaruhi dalam bidang seni serta budaya.

Kerusakan dan Pemugaran

Seperti banyak bangunan kuno lainnya, Candi Plaosan mengalami kerusakan akibat:

  • gempa bumi

  • letusan Gunung Merapi

  • pelapukan batu

  • faktor usia

Gempa besar yang terjadi pada tahun 2006 menyebabkan beberapa bagian candi mengalami kerusakan.

Pemerintah Indonesia kemudian melakukan proses konservasi dan pemugaran secara bertahap dengan tetap mempertahankan keaslian struktur bangunan.

Kini sebagian besar kompleks Plaosan Lor telah berhasil dipulihkan sehingga dapat dinikmati oleh wisatawan.

Candi Plaosan sebagai Destinasi Wisata

Selain memiliki nilai sejarah tinggi, Candi Plaosan juga menjadi salah satu lokasi favorit bagi fotografer.

Keunggulannya antara lain:

  • suasana lebih tenang dibanding Prambanan

  • panorama sawah yang luas

  • latar belakang Gunung Merapi pada cuaca cerah

  • lokasi yang mudah dijangkau

Banyak wisatawan datang saat matahari terbit maupun menjelang senja untuk menikmati pencahayaan alami yang mempercantik siluet candi.

Fakta Menarik Candi Plaosan

Beberapa fakta yang membuat Candi Plaosan semakin unik:

  • Dibangun sekitar abad ke-9 Masehi.

  • Diduga menjadi simbol cinta Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani.

  • Memiliki dua candi utama yang hampir identik sehingga dijuluki Candi Kembar.

  • Menjadi simbol toleransi antara Hindu dan Buddha pada masa Mataram Kuno.

  • Memiliki kompleks yang dahulu terdiri atas ratusan bangunan.

  • Berada sangat dekat dengan Candi Prambanan.

  • Menjadi salah satu candi paling fotogenik di Jawa Tengah.

Mengapa Candi Plaosan Penting Dipelajari?

Di tengah masyarakat modern yang semakin beragam, keberadaan Candi Plaosan mengajarkan bahwa perbedaan keyakinan tidak harus melahirkan permusuhan.

Justru dari keberagaman itulah lahir karya budaya yang luar biasa indah.

Candi Plaosan juga menunjukkan bahwa sejarah Nusantara tidak hanya dipenuhi kisah peperangan, tetapi juga kisah kerja sama, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Nilai-nilai tersebut tetap relevan hingga saat ini ketika masyarakat Indonesia terus menjaga semangat persatuan di tengah kemajemukan.

Posting Komentar untuk "Candi Plaosan Bukti Cinta Putri Buddha dan Pangeran Hindu di Jawa Kuno"