zmedia

"Maradona Ternyata Benar?" Peringatan Sang Legenda tentang Iklan di Piala Dunia Kini Terasa Menjadi Kenyataan

"Orang Amerika akan membuat pertandingan menjadi empat babak agar lebih banyak iklan." Kalimat itu pernah dianggap sekadar lelucon khas Diego Maradona. Banyak yang menertawakannya pada 2018, ketika FIFA menunjuk Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026. 


Namun delapan tahun kemudian, saat jutaan pasang mata menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2026 yang berkali-kali terhenti karena jeda hidrasi, ucapan itu mendadak kembali viral. 

Pertanyaannya bukan lagi apakah Maradona benar-benar mengatakannya, melainkan, apakah sepak bola modern memang perlahan sedang dikalahkan oleh kepentingan komersial?

Di atas kertas, aturan permainan memang tidak berubah. Pertandingan tetap berlangsung dua babak masing-masing 45 menit. Namun di lapangan, ritme permainan tidak lagi sama seperti dahulu. Jeda hidrasi, pemeriksaan VAR, pergantian pemain yang semakin banyak, hingga kepentingan siaran televisi membuat pertandingan terasa semakin sering berhenti. Bagi sebagian penggemar, sepak bola mulai kehilangan salah satu identitas utamanya: permainan yang mengalir tanpa banyak interupsi.

Latar Belakang: Sindiran yang Dianggap Berlebihan

Pada Juni 2018, FIFA mengumumkan bahwa Piala Dunia 2026 akan digelar bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Keputusan itu disambut gembira karena menjadi Piala Dunia pertama yang diikuti 48 negara peserta.

Namun, tidak semua tokoh sepak bola menyambutnya dengan optimistis.

Diego Maradona justru memberikan komentar yang kontroversial. Ia mengkritik budaya olahraga Amerika Utara yang menurutnya terlalu menempatkan televisi dan sponsor sebagai pusat perhatian. Dalam sebuah wawancara, ia mengatakan bahwa orang Amerika "akan ingin membuat pertandingan menjadi empat babak masing-masing 25 menit agar lebih banyak iklan bisa masuk."

Ucapan tersebut jelas bukan informasi mengenai rencana FIFA. Itu adalah satire—cara Maradona menyindir bagaimana olahraga profesional di Amerika Serikat, seperti NFL, NBA, atau MLB, dipenuhi jeda yang memberi ruang luas bagi iklan televisi.

Saat itu banyak orang menganggap komentarnya berlebihan. Sepak bola, kata mereka, tidak mungkin mengikuti model olahraga Amerika.

Delapan tahun kemudian, perdebatan itu kembali muncul.

2018: Ketika Maradona Mengingatkan Dunia

Maradona bukan sekadar pesepak bola legendaris. Ia juga dikenal sebagai sosok yang sering mengkritik FIFA, sponsor besar, dan arah industri sepak bola modern.

Baginya, sepak bola adalah permainan rakyat. Keindahannya terletak pada ritme yang terus mengalir selama 45 menit tanpa jeda komersial. Penonton larut dalam permainan, bukan dipaksa berhenti setiap beberapa menit untuk menyaksikan iklan.

Karena itu, ketika Amerika Serikat menjadi pusat penyelenggaraan Piala Dunia, Maradona khawatir budaya bisnis khas Amerika akan ikut membentuk wajah sepak bola internasional.

Saat itu, kekhawatiran tersebut terdengar seperti prediksi yang mustahil.

Jeda Hidrasi dan Pertandingan yang Terasa Berubah

Piala Dunia 2026 memperlihatkan tantangan baru yang sebelumnya jarang dihadapi turnamen sepak bola.

Sebagian pertandingan berlangsung dalam suhu yang sangat tinggi. Demi melindungi kesehatan pemain, FIFA menerapkan jeda hidrasi wajib di setiap babak pada pertandingan yang memenuhi kriteria cuaca ekstrem.

Secara medis, keputusan itu sulit diperdebatkan. Keselamatan pemain tentu harus menjadi prioritas.

Namun, persoalannya tidak berhenti di sana.

Bagi industri penyiaran, setiap jeda berarti kesempatan menayangkan iklan. Dalam hitungan bisnis, satu menit tambahan di tengah pertandingan memiliki nilai yang sangat besar karena jutaan orang sedang menyaksikan siaran secara langsung.

Akibatnya, banyak penonton merasa pertandingan kini terbagi menjadi empat segmen:

  • awal babak pertama;

  • setelah jeda hidrasi pertama;

  • awal babak kedua;

  • setelah jeda hidrasi kedua.

Persis seperti sindiran Maradona.

Memang bukan empat babak secara resmi, tetapi sensasi yang dirasakan penonton menjadi berbeda dibanding sepak bola yang mereka kenal puluhan tahun lalu.

Apakah FIFA Sedang Mengubah Sepak Bola?

Di sinilah perdebatan sebenarnya dimulai.

Secara aturan, jawabannya adalah tidak.

Jeda hidrasi diterapkan berdasarkan pertimbangan kesehatan, bukan demi memberi ruang kepada sponsor.

Namun, apakah industri penyiaran memperoleh keuntungan dari kebijakan tersebut?

Jawabannya juga ya.

Kedua fakta ini bisa berjalan bersamaan.

Inilah yang membuat komentar Maradona terasa begitu relevan. Ia tidak sedang berbicara tentang perubahan aturan pertandingan. Ia sedang mengkritik kecenderungan bahwa setiap perubahan dalam sepak bola modern pada akhirnya akan memiliki nilai ekonomi.

Fenomena itu sebenarnya sudah terlihat selama dua dekade terakhir.

VAR memperpanjang waktu penghentian pertandingan.

Pergantian pemain bertambah dari tiga menjadi lima.

Papan iklan digital kini dapat menampilkan iklan berbeda untuk setiap negara yang menonton siaran.

Hak siar Piala Dunia bernilai miliaran dolar.

Bahkan waktu tambahan yang kini bisa mencapai lebih dari sepuluh menit juga memperpanjang durasi tayangan televisi.

Semua itu memang memiliki alasan teknis masing-masing. Namun jika dilihat sebagai satu kesatuan, arah perkembangannya menunjukkan bahwa sepak bola semakin erat dengan logika industri hiburan global.

Sepak Bola atau Produk Hiburan?

Pertanyaan yang lebih besar sebenarnya bukan soal jeda hidrasi.

Pertanyaannya adalah untuk siapa sepak bola dimainkan hari ini?

Apakah masih untuk para pemain dan penonton di stadion?

Ataukah semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan televisi, platform streaming, dan sponsor internasional?

Sulit membantah bahwa sepak bola telah menjadi industri bernilai ratusan miliar dolar. Klub-klub besar menjual hak siar, sponsor jersey, tur pramusim, hingga konten digital. FIFA sendiri memperoleh sebagian besar pendapatannya dari hak siar dan kemitraan komersial.

Tidak ada yang salah dengan menghasilkan keuntungan. Tanpa pemasukan besar, pembinaan pemain muda, pembangunan stadion, dan pengembangan sepak bola di berbagai negara juga akan terhambat.

Namun, ketika setiap perubahan dalam permainan selalu memiliki konsekuensi komersial, publik wajar mempertanyakan apakah esensi sepak bola perlahan sedang bergeser.

Maradona mungkin tidak sedang meramalkan masa depan secara harfiah. Ia sedang mengingatkan bahwa sepak bola memiliki batas antara menjadi olahraga dan menjadi sekadar produk hiburan.

Dampak dan Relevansi Hari Ini

Mengapa isu ini penting dibahas sekarang?

Karena Piala Dunia 2026 bukan hanya turnamen sepak bola terbesar dalam sejarah. Turnamen ini juga menjadi simbol bagaimana olahraga modern menghadapi tantangan baru. Perubahan iklim, kebutuhan keselamatan atlet, perkembangan teknologi, dan tekanan industri media yang terus mencari ruang komersial.

Di satu sisi, jeda hidrasi menyelamatkan pemain dari risiko cuaca ekstrem. Di sisi lain, jeda tersebut menunjukkan bahwa setiap perubahan dalam olahraga modern hampir selalu membawa konsekuensi ekonomi.

Perdebatan ini kemungkinan tidak akan berhenti setelah Piala Dunia 2026. Justru seiring semakin besarnya nilai hak siar dan sponsor, pertanyaan mengenai batas antara kebutuhan olahraga dan kepentingan bisnis akan semakin sering muncul.

Sumber & Bacaan Lanjutan

  • Wawancara Diego Maradona mengenai penunjukan tuan rumah Piala Dunia 2026 yang dikutip oleh MARCA (2018).

  • Regulasi resmi FIFA mengenai hydration break dalam pertandingan sepak bola.

  • IFAB Laws of the Game mengenai penerapan jeda hidrasi pada kondisi cuaca ekstrem.

  • Analisis media internasional mengenai komersialisasi sepak bola dan penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Posting Komentar untuk ""Maradona Ternyata Benar?" Peringatan Sang Legenda tentang Iklan di Piala Dunia Kini Terasa Menjadi Kenyataan"